Kamu mungkin melihat bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat dengan etos kerja baik dan penuh etika. Bahkan, hal tersebut sering kita lihat di restoran-restoran Jepang di Indonesia. Mengucapkan salam dan bahasa tubuh hormat lainnya merupakan kebiasaan yang sangat ditekankan oleh bisnis dengan budaya Jepang.

Ada 5 etos kerja dan prinsip masyarakat Jepang yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu kaizen, bushido, meishi kokan, keishan, dan ganbatte. Apa saja tuh artinya?

1. Kaizen

Dalam konteks bisnis dan produktivitas, Kaizen artinya adalah ‘pengembangan dan perbaikan yang terus menerus’. Tidak dalam pekerjaan saja, kaizen juga bisa diterapkan di kehidupan pribadi kamu. One Small Step Can Change Your Life: The Kaizen Way adalah bacaan yang menarik tentang prinsip ini.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Secara umum, ada 6 langkah dasar dari ‘kaizen’, yaitu:

  • Standardize: Buat sebuah standar proses untuk setiap aktivitas yang terorganisir dan bisa diulang secara rutin
  • Measure: Ukur proses tersebut dengan data numerik seperti jumlah jam yang dibutuhkan, dsb
  • Compare: Bandingkan hasil pengukuran dengan ketentuan standar.
  • Innovate: Cari metode baru yang lebih baik dan efisien untuk mencapai hal yang sama atu bahkan lebih
  • Standardize: Ciptakan standar proses yang baru lagi dari metode yang sudah lebih efisian tersebut
  • Repeat: Ulang dari langkah 1 dan mulai kembali

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Identifikasi di mana saja waktu dan energi kamu ‘terbuang’. Kalau ada sebuah project yang mendesak namun belum sempat kamu kerjakan dengan maksimal, mungkin kamu harus memangkas beberapa hal lain yang kurang mendesak. Atau, kalau kamu melakukan sebuah tugas yang repetitif, coba ukur waktu yang dibutuhkan dengan tools misalnya Pomodoro Timer.
  • Lakukan langkah-langkah kecil supaya bisa lebih efektif dan efisien. Misalnya, selama ini kamu merasa kamu tidak pernah mendapatkan waktu makan siang yang layak karena harus bekerja di jam tersebut. Identifikasi hal-hal yang dapat menghambat pekerjaan kamu selama ini. Mungkin mengurangi membaca artikel dan video online sambil bekerja? Atau datang ke kantor 10-15 menit lebih cepat.
  • Evaluasi dan perbaiki terus menerus. Cek kembali langkah-langkah kecil tersebut. Apakah sudah mencapai objektif yang kamu inginkan? Apa yang bisa lebih ditingkatkan.
  • Komitmen dengan waktu. Terlepas seberapa sering kamu melakukan evaluasi, yang terpenting dari kaizen adalah ketepatan waktu.

2. Bushido

Singkat kata, bushido adalah prinsip-prinsip dan etos kerja ala seorang kesatria. Walaupun identik dengan dunia kesatria dan perang,  prinsip ini juga masih relevan di dunia modern. Buat kamu yang ingin tahu lebih lanjut, buku The Art of War karya Sun Tzu cocok buat kamu. Sun Tzu juga memiliki edisi khusus bagi para pembaca wanita, yaitu Women and the Art of War: Sun Tzu’s Strategies for Winning without Confrontation

Apa hal yang bisa dipelajari?

Bushido memiliki serangkaian nilai-nilai inti, yaitu:

  • Kennin, yaitu kegigihan atau ketekunan
  • Shinnen, yaitu keyakinan akan diri sendiri
  • Shincho, yaitu kepedulian dan kebijaksanaan
  • Seigi, yaitu keadilan dan kebenaran
  • Sessei, yaitu kesederhanaan dan keseimbangan
  • Jizen, yaitu perbuataan baik dan amal
  • Kibo, yaitu harapan dan optimisme

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Menghargai orang tua dan rekan kerja. Menghargai keluarga dan orang tua adalah hal yang vital sebagai seorang ‘ksatria’. Menurut prinsip Bushido, seseorang tergolong buruk apabila tidak menghargai orangtua mereka, terlepas kecerdasan dan keberhasilan yang mereka raih. Respek juga penting dalam dunia kerja. So, walaupun sibuk kerja, jangan lupain orangtua ya!
  • Setia pada janji dan pekerjaan. Kalau kamu sudah berjanji akan menyelesaikan hal A pada tanggal X, pastikan kamu menyelesaikan hal tersebut sesuai perkataan kamu. Kesetiaan adalah salah satu nilai bushido yang dapat diterapkan di kehidupan pribadi dan profesional.
  • Bijak dalam menggunakan uang. Bushido menekankan pentingnya keseimbangan antara tabungan dan pengeluaran. Jadi, kamu bisa mulai belajar untuk memilah-milah mana yang keinginan dan kebutuhan. Walaupun begitu, bushido juga menekankan bahwa keengganan untuk menggunakan uang ketika dibutuhkan adalah sebuah tindakan yang buruk, Jadi, tetap bijak dalam manajemen keuangan kamu ya!
  • Optimis dalam segala sesuatu. Konon, seorang samurai sejati sering diasosiasikan dengan kepercayaan diri yang absolut, sebuah optimisme bahwa mereka bisa mencapai apapun yang mereka mau.

3. Meishi Kokan

Kalau kamu meeting dengan orang Jepang, umumnya meeting tersebut akan dimulai dengan ritual bertukar kartu nama yang umumnya disebut meishi kokan.

Idealnya, kamu harus menerima kartu nama tersebut dengan kedua tangan, membaca informasinya dengan seksama, mengulangi informasi yang tertera di dalamnya sebagai bentuk konfirmasi, lalu meletakkan kartu nama tersebut ke dalam dompet kartu nama atau di atas meja sehingga kartu nama tersebut bisa jadi acuan ketika kamu dan mitra bisnis Jepang kamu sedang berbincang-bincang.

Jangan sekali-kali meletakkan kartu nama tersebut ke dalam kantong, ya!

Apa hal yang bisa dipelajari?

Bertukar kartu nama di awal menandakan bahwa kita menghargai hubungan profesional yang baru saja terbentuk dan akan terus menghargai hubungan tersebut ke depannya.

Sebuah pekerjaan atau bisnis membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan etos kerja agar bisa berhasil. Menghargai kartu nama rekan bisnis kamu sama saja dengan menghormati sepenuhnya etos kerja dan hasil pekerjaan mereka untuk mencapai titik mereka berada sekarang ini.

Bagaimana cara menerapkannya?

Kamu tidak perlu meniru sepenuhnya ritual ini dalam konteks masyarakat Indonesia. Tapi, paling tidak, kamu bisa mencoba untuk menerima dan mencerna informasi dalam kartu nama tersebut terlebih dahulu. Hindari terburu-buru memasukkan kartu nama tersebut ke dalam kantong mana saja di pakaian kamu apalagi kalau kartu namanya sampai terlipat

4. Keishan

Serupa dengan kaizen, prinsip ini menekankan pentingnya perubahan dan peningkatan yang konsisten dalam bekerja. Namun, fokus dari keishan adalah pada kreativitas, daya inovasi, dan produktivitas. Buku Originals karya Adam Grant mengajarkan banyak tentang berpikir out of the box.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Keishan mencoba mengajarkan kepada kita supaya tidak pernah berhenti belajar sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang unik, kreatif, dan bermanfaat. Etos kerja ini pastinya bermanfaat bagi kamu yang masih kuliah maupun sudah kerja.

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Lakukan daily stand up meeting. Kamu bisa mencoba untuk mengadakan meeting harian dengan tim kamu dan menjabarkan apa saja yang ingin dicapai pada hari tersebut. Lebih uniknya, kamu dapat mencoba melakukan meeting ini sambil berdiri dan dengan durasi yang singkat. Jenis meeting seperti ini harapannya dapat membuat kamu lebih fokus dan terlibat.
  • Jangan berhenti mencari inspirasi. Setiap kali kamu menemukan sesuatu yang menurut kamu dapat menjadi solusi dan pengembangan bagi pekerjaan kamu, kamu bisa mencoba untuk menyimpannya di sekitar meja kerja kamu. Ada artikel bagus? Simpan tautannya, cetak artikelnya, dan letakkan di sekitar ruangan kerja kamu. Ada sebuah video yang menurut kamu bagus? Simpan tautannya, tonton videonya, dan bagikan kepada orang lain apa yang kamu dapatkan dari video tersebut. Kesannya sederhana, bukan?
  • Cari rekan yang memiliki pemikiran serupa. Inovasi jarang muncul begitu saja. Kamu mungkin membutuhkan orang-orang dengan semangat yang sama untuk dapat menjadi kreatif dalam apa yang kamu kerjakan. Kalian bisa saling bertukar ide dan inspirasi, berbagi artikel dan video bermanfaat, hingga pergi ke kursus tertentu untuk mempelajari skill baru bersama-sama. Kamu bisa membaca cara meningkatkan kemampuan berpikir kreatif lainnya di sini.

5. Ganbatte

Buat kamu yang sering menonton acara TV Jepang, mungkin istilah ini sudah tidak asing lagi di telinga kamu. Secara harafiah, ganbatte berarti ‘tetap semangat’ atau ‘lakukan yang terbaik’.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Masyarakat Jepang dikenal dengan semangatnya yang tak kunjung padam dalam menghadapi tantangan apapun dalam kehidupan mereka. Semangat ini tertanam dari sejak mereka kecil hingga mereka dewasa.

Saat masih di bangku sekolah, jam sekolah yang panjang dan tugas-tugas yang menantang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Belum lagi berbagai jenis tes yang harus mereka lewati dan kompetisi-kompetisi yang harus mereka lewati baik di dalam maupun luar sekolah. Di dunia kerja, semangat ini terus kentara dan tidak jarang masyarakat Jepang malu apabila pulang dari kantor lebih cepat daripada rekan kerja lainnya.

Bagaimana cara menerapkannya?

Buku Grit karya Angela Duckworth mengajarkan banyak hal mengenai semangat, kegigihan, ketekunan, dan passion dalam apa yang kita lakukan.

  • Kejar sesuatu hingga titik darah penghabisan. Kerja keras selalu mengalahkan talenta. Kalau kamu ingin tahu dan terampil dalam suatu hal, luangkan waktu untuk mempelajarinya. Latihan, latihan, dan latihan terus menerus. Mulai dengan project kecil.
  • Miliki mimpi yang besar dan target skala kecil. Misalnya, kamu ingin memiliki penghasilan sendiri dan tidak merepotkan orang tua kamu secara finansial. Apa langkah yang harus diambil? Kamu mungkin harus menyelesaikan kuliah dengan baik, mencari pekerjaan sampingan sebagai tambahan uang bulanan selama kuliah, dan mencari pekerjaan yang baik. Intinya adalah SMART goals.

Sumber : https://glints.com/id/lowongan/5-etos-kerja-jepang/#.XrI7RhMza00

Leave a Comment